Istana Bogor di Provinsi Jawa Barat sangat menyimpan sejarah dari awal ia berdiri hingga sekarang masih tetap terawat dan terjaga.

Istana Bogor awalnya dijadikan tempat peristirahatan para orang-orang Belanda yang bekerja di Batavia dulu, karena menurut mereka di Batavia sangat panas dan terlalu ramai hingga mereka harus mencari tempat yang sejuk dan ketemulah tempat Istana Bogor.

Gubernur Jenderal Belanda menemukan tempat yang cukup baik berada di sebuah kampong yang bernama Kampung Baroe di perkiraan tahun 1745.

Namun, tempat tersebut pun dijadikan tempat memerintah pembangunan dan telah diberikan dengan nama Buitenzorg yang berarti bebas dari kesulitan atau masalah.

Ia pun telah membuat bentuk bangunannya sangat mirip seperti kediaman Duke of Malborough yang berada di kota Oxford dan sekarang wilayah dari bangunan tersebut kini dikenal sebagai kota Bogor.

Gubernur Jenderal Belanda yang satu ini merupakan sosok seseorang yang rajin membangun gedung tersebut hingga akhir hayatnya dan masih sangat jauh untuk penyelesaian bangunannya.

Di tahun 1750-1755 Istana Bogor telah mengalami kerusakan yang amaat parah pada saat perang Banten dan kerusakan tersebut dilakukan oleh pasukan-pasukan dari Banten yang sudah menyerang Kampong Baroe dan telah membakarnya.

Kesultanan Banten pun telah merampas berbagai Kompeni yang terlibat dan Istana Bogor pun diperbaiki kembali dengan tetap mempertahankan arsitektur yang ada.

Berbagai perombakan pun terjadi sebagaimana perubahan pergantian para gubernur jenderal Belanda yang salah satunya terjadi pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Willem Daendels di tahun 1808.

Dengan memperluas gedung dan memberikan penambahan yang sangat lebar di setiap sisinya serta dijadikan dua tingkat membuat Istana ini berubah sangat besar.

Di saat pemerintahan gubernur tahun 1817 pun terjadi perubahan yang sangat besar seperti diberikan gedung induk dibagian tengahnya berbentuk seperti menara dan lahan disekelilingnya dijadikan Kebun Raya Bogor seperti sekarang.

Di tahun 1834 pun telah merusak istana sangat parah karena gempa bumi yang menimpanya. Di tahun 1851 pun bangunan tersebut dibangun kembali menjadi 1 tingkat saja dengan tema Istana Eropa.

Di bagian gedung Induk dan sayap gedung telah dibangun jembatan penghubung dari kayu lengkung pada tahun 1856 sekalian penyelesaian bangunan Istana Bogor.

Istana ini pun telah menjadi kediaman resmi dan terpaksa harus menyerahkan istana ini ke pemerintah pendudukan Jepang pada penghuni jenderal Belanda yang terakhir.

Akhirnya Istana Bogor ini pun telah diberikan kembali pada pemerintah RI di tahun 1950 karena pada saat itu telah diserbu oleh tentara Ghurka dan telah direbut kembali oleh Indonesia.

Istana pun mengalami perubahan sedikit demi sedikit seperti bangunan berjumlah 10 pilar penopang yang cantik dan menyatu dengan serambi muka dengan 6 pilar menggunakan gaya yang sama.

Anak tangga pun diubah menjadi lurus dan tidak terlalu melingkar seperti sebelumnya dan jembatan kayu pun sudah diubah menjadi koridor tengah yang masih memiliki berbagai hiasan-hiasan seperti sebelumnya walaupun sayapnya sudah tidak terlihat seperti sebelumnya.

Akhirnya, fungsi Istana ini pun juga menjadi kantor urusan kediaman resmi Presiden RI seperti pada masa Belanda. Konferensi 5 Negara juga pernah diselenggarakan disini.

Bagi bangsa Indonesia apalagi para Presiden kita tentunya telah menganggap Istana Bogor ini merupakan peristiwa yang bersejarah dan sangat berpengaruh pada kehidupan Indonesia yang akan mendatang.