Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid ini juga menjadi symbol toleransi antaragama karena lokasinya yang bersebrangan dengan Gereja Katredal.

Masjid Istiqlal menempati area tanah seluar 9,5 hektar. Nama Istiqlal sendiri diambil dari bahasa Arab yang artinya merdeka.

Rencana pembangunan Masjid Istiqlal telah muncul sejak tahun 1950-an. Lokasi Masjid Istiqlal yang berada di sekitar Monumen Nasional (Monas) merupakan keinginan Presiden Soekarno.

Dahulu, area tersebut dikenal sebagai Taman Wilhelmina. Kawasan ini dikenal sebagai alun-alun Jakarta pada masa itu.

Disebutkan bahwa Soekarno juga ingin masjid dibangun dekat dengan Gereja Katedral untuk melambangkan toleransi beragama.

Walaupun Moehammad Hatta sempat tak setuju dengan keinginan Presiden Soekarno ini, namun setelah bermusyawarah, kesepakatan pun diambil untuk membangun Masjid Istiqlal di kawasan Taman Wilhelmina ini.

Kemudian, di tahun 1955, Presiden Soekarno mengadakan sayembara untuk mencari desain masjid ini.

Dari 30 peserta, disaringlah hingga menjadi lima finalis. Akhirnya pada Juli 1955, dewan juri menetapkan Friedrich Silaban sebagai pemenang yang berhak menggunakan desainnya untuk jadi desain Masjid Istiqlal.

Uniknya, Friedrich ini merupakan umat Kristen Protestan namun ia berhasil menang dengan tema desainnya yang bertemakan Ketuhanan.

Menurutnya, Friedrich berkeliling ke seluruh Inodnesia dan melihat beberapa masjid di dunia untuk mempelajari desainnya.

Hal ini juga agar sesuai dengan prinsip – prinsip Islam. Setelah penetapan Friedrich Silaban sebagai arsitek Masjid Istiqlal, pembangunan pun mulai dilakukan. Pemancangan tiang pertama dilakukan pada 1961 oleh Presiden Soekarno.

Namun, pembangunan masjid ini berlangsung cukup lama. Sebagai gejolak politik dan ekonomi yang melanda Indonesia saat itu menghambat proses pembangunan Masjid Istiqlal.

Ketiadaan dana akibat krisis moneter yang dialami Indonesia pada tahun 1960 an membuat pembangunan masjid ini terhambat.

Total waktu yang dibutuhkan untuk membangun Masjid ini adalah sekitar 17 tahun. Masjid yang selesai dibangun pada 1978 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Dalam pembangunannya, Friedrich memasukkan banyak simbol-simbol berkaitan dengan Islam dan Indonesia ke dalam desainnya.

Salah satunya adalah luas kubah masjid. Kubah Masjid Istiqlal memiliki diameter sekitar 45 meter. Adapun angka 45 ini melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia. Dalam kubah tersebut juga terdapat ukiran ayat kursi yang melingkari kubah.

Masjid ini juga ditopang dengan 12 tiang yang melambangkan hari kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh di tanggal 12 Rabiul Awwal.

Selain itu, masjid Istiqlal juga memiliki 4 lantai balkon dan satu lantai dasar. Kelima lantai ini melambangkan 5 Rukun Islam, jumlah salat wajib dalam sehari, serta jumlah sila dalam Pancasila.

Lalu pada bagian luar Masjid, terdapat menara yang memiliki tinggi 6.666 sentimeter. Angka ini melambangkan keseluruhan jumlah ayat dalam Al Quran.

Masjid ini juga hanya memiliki satu menara. Konon katanya, menara ini memang hanya ada satu untuk melambangkan tanda keesaan Tuhan.

Di Masjid ini juga ada bedug raksasa yang terbuat dari pohon kayu meranti. Bedug raksasa ini berusia sekitar 300 tahun.

Ada yang unik di bedug tersebut dimana di baguan sisi dari bedug tersebut ada ukiran kaligrafi bahasa Arab gundul. Namun, jika diperhatikan lagi Kaligrafi itu menyerupai sosok Semar dalam dunia perwayangan Jawa.

Itulah informasi lengkap mengenai Mesjid Istiqlal. Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat terutama bagi kalian yang ingin tahu lebih dalam mengenai bangunan yang bersejarah.