Luxor, Istana Peninggalan Firaun di Mesir

Luxor, kota tua di Mesir yang dibangun oleh Raja Amenothep (Minepthah) III dan Ramses II ini dikenal sebagai the World Open-Air Museum (Museum Terbuka di dunia),  yang banyak dikunjungi oleh turis-turis mancanegara.

Di kota tua ini, terdapat berbagai peninggalan sejarah yang usianya telah mencapai ribuan tahun. Bahkan, hampir sepertiga peninggalan bersejarah di dunia, termasuk barang antik, ada di Kota Luxor.

Dahulu kala, Luxor merupakan ibu kota negara Mesir yang bernama Wasset. Kemudian berubah nama menjadi Thebes.

Orang-orang Arab menyebutnya dengan Luxor, yang dalam bahasa Arab al-aqsor atau al-uqsur,  yang artinya adalah The City of Palace  (Kota Istana). Sebab, di wilayah ini terdapat bangunan-bangunan bersejarah yang sangat indah,  megah, dan besar yang ada di sekitar Luxor.

Museum ini diklaim sebagai satu-satunya museum di dunia dan merupakan tempat menyimpan 150 jenis peninggalan mumi, peti mayat (coffins), peralatan yang biasa digunakan tabib (dokter) pada masa Mesir Kuno, serta lukisan-lukisan yang menceritakan tentang upacara ritual keagamaan pada masa itu.

Kota ini terbagi dua, yaitu Luxor Barat dan Timur. Luxor bagian Barat merupakan tempat atau lokasi pemakaman dan kuil penyembahan dewa kematian. Di daerah ini, dapat ditemukan museum mumi (Mummifucation Museum).

Luxor Timur yang merupakan pusat kehidupan serta aktivitas peradaban memiliki beberapa peninggalan bersejarah lainnya. Diantaranya adalah Luxor Temple.

Kuil ini berada di jantung kota Luxor dan khusus dipersembahkan untuk Dewa Amon Ra atau Dewa Matahari.

Kuil ini dibangun pada masa Kerajaan Baru Pharaoh Amenophis III lalu kemudian diperluas oleh raja – raja Meisr termasuk Raja Ramses II. Di salah satu sudut kuil Luxor terdapat bangunan masjid yang diberi nama Abu Al Haggag yang dibangun pada masa pemerintahan Arab di abad ke-13.

Di gerbang utama kuil ini terdapat satu obelisk yang terbuat dari batu merah muda setinggi 25 meter. Pada abad ke-19, Obelisk ini terdapat sepasang, namun salah satunya kini berada di Prancis.

Tempat lainnya adalah Karnak Temple. Kuil ini menunjukkan keagungan dari Theban God Amon, simbol Dewa Kesuburan dan Pertumbuhan.

Karnak terdiri atas bermacam-macam kuil, chapel, dan bangunan-bangunan lain. Nama Karnak diambil dari nama sebuah desa, yaitu El-Karnak.

Bagian terbesar dan terpenting dari tempat ini adalah pusat kuil terbesar dari Dewa Amon. Lay out dan kuil besarnya terdiri atas  serangkaian phylons (tonggak menara), yaitu phylons IV dan V yang dibangun oleh Tuhtmosis I dan sejak saat itu, kuil Karnak diperbesar ke arah  Barat dan Selatan.

Ada juga Luxor Musseum yang terletak di antara Kuil Luxor dan Karnak dan merupakan tempat peninggalan pusaka Firaun yang ada di Luxor dan daerah-daerah sekitarnya, serta petunjuk atau informasi seputar monumen-monumen yang akan dikunjungi berikutnya.

Karena keberadaan tempat dan peninggalan bersejarah itulah, maka tak heran bila Luxor menjadi objek wisata paling menarik di Mesir, termasuk saat berkuasanya dinasti Yunani dan Romawi.

Bila melihat bukti-bukti yang ada, keberadaan istana Firaun itu berada di kawasan Luxor (al-Uqsur), sekarang ini, yaitu terletak di pinggir Sungai Nil.

Itulah seputar informasi mengenai Luxor, sebuah kota kerajaan yang berada di Mesir sana. Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat terutama bagi kalian yang ingin menambah ilmu pengetahuan yang kalian miliki.

Asal Usul Munculnya Istana Bogor di Jawa Barat

Istana Bogor di Provinsi Jawa Barat sangat menyimpan sejarah dari awal ia berdiri hingga sekarang masih tetap terawat dan terjaga.

Istana Bogor awalnya dijadikan tempat peristirahatan para orang-orang Belanda yang bekerja di Batavia dulu, karena menurut mereka di Batavia sangat panas dan terlalu ramai hingga mereka harus mencari tempat yang sejuk dan ketemulah tempat Istana Bogor.

Gubernur Jenderal Belanda menemukan tempat yang cukup baik berada di sebuah kampong yang bernama Kampung Baroe di perkiraan tahun 1745.

Namun, tempat tersebut pun dijadikan tempat memerintah pembangunan dan telah diberikan dengan nama Buitenzorg yang berarti bebas dari kesulitan atau masalah.

Ia pun telah membuat bentuk bangunannya sangat mirip seperti kediaman Duke of Malborough yang berada di kota Oxford dan sekarang wilayah dari bangunan tersebut kini dikenal sebagai kota Bogor.

Gubernur Jenderal Belanda yang satu ini merupakan sosok seseorang yang rajin membangun gedung tersebut hingga akhir hayatnya dan masih sangat jauh untuk penyelesaian bangunannya.

Di tahun 1750-1755 Istana Bogor telah mengalami kerusakan yang amaat parah pada saat perang Banten dan kerusakan tersebut dilakukan oleh pasukan-pasukan dari Banten yang sudah menyerang Kampong Baroe dan telah membakarnya.

Kesultanan Banten pun telah merampas berbagai Kompeni yang terlibat dan Istana Bogor pun diperbaiki kembali dengan tetap mempertahankan arsitektur yang ada.

Berbagai perombakan pun terjadi sebagaimana perubahan pergantian para gubernur jenderal Belanda yang salah satunya terjadi pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Willem Daendels di tahun 1808.

Dengan memperluas gedung dan memberikan penambahan yang sangat lebar di setiap sisinya serta dijadikan dua tingkat membuat Istana ini berubah sangat besar.

Di saat pemerintahan gubernur tahun 1817 pun terjadi perubahan yang sangat besar seperti diberikan gedung induk dibagian tengahnya berbentuk seperti menara dan lahan disekelilingnya dijadikan Kebun Raya Bogor seperti sekarang.

Di tahun 1834 pun telah merusak istana sangat parah karena gempa bumi yang menimpanya. Di tahun 1851 pun bangunan tersebut dibangun kembali menjadi 1 tingkat saja dengan tema Istana Eropa.

Di bagian gedung Induk dan sayap gedung telah dibangun jembatan penghubung dari kayu lengkung pada tahun 1856 sekalian penyelesaian bangunan Istana Bogor.

Istana ini pun telah menjadi kediaman resmi dan terpaksa harus menyerahkan istana ini ke pemerintah pendudukan Jepang pada penghuni jenderal Belanda yang terakhir.

Akhirnya Istana Bogor ini pun telah diberikan kembali pada pemerintah RI di tahun 1950 karena pada saat itu telah diserbu oleh tentara Ghurka dan telah direbut kembali oleh Indonesia.

Istana pun mengalami perubahan sedikit demi sedikit seperti bangunan berjumlah 10 pilar penopang yang cantik dan menyatu dengan serambi muka dengan 6 pilar menggunakan gaya yang sama.

Anak tangga pun diubah menjadi lurus dan tidak terlalu melingkar seperti sebelumnya dan jembatan kayu pun sudah diubah menjadi koridor tengah yang masih memiliki berbagai hiasan-hiasan seperti sebelumnya walaupun sayapnya sudah tidak terlihat seperti sebelumnya.

Akhirnya, fungsi Istana ini pun juga menjadi kantor urusan kediaman resmi Presiden RI seperti pada masa Belanda. Konferensi 5 Negara juga pernah diselenggarakan disini.

Bagi bangsa Indonesia apalagi para Presiden kita tentunya telah menganggap Istana Bogor ini merupakan peristiwa yang bersejarah dan sangat berpengaruh pada kehidupan Indonesia yang akan mendatang.